Senin, 02 Maret 2020

KOMUNIKASI YANG EFEKTIF


Komunikasi yang baik  bisa menjauhkan kita dari perselisihan atau pertengkaran. Kadang, perseteruan yang sangat sengit berawal dari komunikasi yang buruk. Dimulai dari mimik muka yang manyun, intonasi bahasa yang menyengat, dan pilihan kata yang sinis atau sarkastik,  pembicaraan yang mestinya intim antara suami dan istri pun bisa berubah menjadi 'kebakaran' hebat dalam rumah tangga, seperti yang diilustrasikan berikut ini.
Dudung (D) pulang kerja, terlambat satu jam. Nunung (N), istrinya, sudah kesal menunggu sambil kawatir kalau-kalau terjadi kecelakaan di lalu lintas Jakarta yang padat semrawut pada jam-jam begini.
 Berlangsung percakapan berikut:
N: Kemana saja kau? Gini hari baru pulang?
D: Jangan monyong gitu dong. Aku juga kesal, motor sialan itu?
N: Motor lagi, motor  lagi disalahkan. Masa motor sialnya tiap hari Sabtu? Tentu kau...
D: Jangan menyangka yang bukan-bukan. Kau selalu cemburu macam-macam saja. Orang capek-capek dorong motor, malah di....
N: Ah, sudahlah. Ditanya biasa-biasa saja ‘nyalahkan aku monyong segala!
Nunung masuk ke kamar tidur sambil membanting pintu keras-keras. Dudung melempar sepatunya ke sudut ruangan, kena kaki meja kecil, tergetar, jambang bunga di atasnya jatuh kelontrangan.
Dudung mau masuk ke kamar tidur untuk salin pakaian, bertepatan dengan Nunung mau keluar. Keduanya berpapasan di pintu. keduanya menghindari persentuhan. Kedua pasang mata itu tidak saling menatap. Melengos!
Andai skenarionya diubah. Nunung menunggu Dudung di depan rumah, dengan raut wajah kawatir, menggunakan intonasi yang penuh kasih sayang, dan memilih pilihan kata yang tidak menghakimi. Di sisi lain, Dudung pun bisa mengendalikan diri, dan memahami kekawatiran istrinya, menghargai perhatiannya, dan menanggapi kata-kata Nunung dengan bijaksana, maka alur komunikasinya bisa berbeda 180 derajad. 

N: Kau lambat sekali, Bang. Aku kawatir kau tabrakan atau gimana. Enggak apa-apa kau, kan?
D: Kenapa-kenapa sih enggak, Dik. Cuma ini,  motor sialan mogok lagi. Dorong sampai ke bengkel, eh itu montir benerinnya lama banget lagi. Sudah kukira kau akan kawatir.
N: Yaah, namanya juga motor tua.
D: Minta minum dong. Haus banget aku.

      Yogyakarta, 2 Februari 2020
      Supriyono, SH, S.Pd., SE, MM, CM